CEO’s Note : Dua Tangis dan Ribuan Tawa

Posted: July 21, 2010 in Berita, copy - paste, Inspirasi
Tags: ,

Oleh: Dahlan Iskan
(CEO PLN)

Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang “baru” enam bulan. Ada yang bilang “sudah” enam bulan.

Betapa relatifnya waktu.

Selama enam bulan itu saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari saya tidak bisa bekerja kecuali hanya tidur lemas di bilik yang ada di belakang ruang kerja Dirut PLN. Sebenarnya saya harus mewaspadai sakit perut seperti itu melebihi sakit lainnya. Ini karena sakit perut, kata dokter, merupakan tanda awal mulai bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu. Mungkin saja itu sebagai tanda awal bahwa hatinya orang lain yang sekarang saya pakai ini mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah kata dokter.

Syukurlah sakit perut itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat. Saya memang tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan dengan obat transplant yang masih harus saya minum setiap hari. Tiba-tiba saja, ketika hari sudah berubah siang, ketika rapat penting yang sudah terlanjur dijadwalkan itu harus dimulai, sakit itu sembuh sendiri….

Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang sudah berjanji kepada diri sendiri: selama enam bulan pertama sebagai Dirut PLN saya tidak akan mengurus apa pun kecuali listrik. Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan listrik. Tidak akan bicara apa pun kecuali soal listrik. Karena itu kalau biasanya dulu setiap bulan saya bisa dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN ini saya tidak ke mana-mana.

Untuk itu saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat dan pengurus berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan itu saya tidak bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan teman-teman dekat dan bahkan selamatan boyongan rumah anak sendiri. Apalagi rapat-rapat organisasi atau permintaan ceramah. Semua saya hindari.

Saya memang masih tercatat sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat kabar se Indonesia, ketua umum persatuan Barongsai Indonesia, persatuan olahraga bridge Indonesia dan banyak lagi. Selama enam bulan itu tidak ada rapat yang bisa saya hadiri.

Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh rupanya saya kurang gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat ke mobil. Siang dan malam. Ini tentu tidak baik. Dokter yang tiga tahun lalu mentransplantasikan hati saya melarang badan saya terlalu gemuk. Dokter selalu mengingatkan, meski kelihatannya sehat status saya tetap saja sebagai orang sakit. Di samping harus terus minum obat, juga harus tetap hati-hati. Karena itu menginjak bulan keenam saya putuskan ini: berangkat kerja berjalan kaki saja.

Maka setiap hari, jam 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki dari rumah saya di dekat Pacific Place Semanggi Jakarta, ke kantor pusat PLN di Jalan Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi itu bukan supaya dianggap sok rajin, tapi ingin menghindari asap knalpot. Tidak ada gunanya berolahraga sambil menghirup CO2.

Beruntung, rute menuju kantor itu bisa ditempuh dengan menghantas jalan-jalan kecil yang sepi yang kiri kanannya penuh dengan pohon-pohon nan merimbun. Jam 06.30, ketika baru ada satu dua mikrolet mengasapi jalanan, saya (biasanya ditemani istri) tiba di kantor dengan keringat yang bercucuran.

Hasilnya: selama satu bulan itu berat badan sudah turun 2 kg. Masih punya utang 1 Kg lagi. Mula-mula berjalan cepat selama 35 menit itu terasa berat. Jarak rumah-kantor itu juga terasa sangat jauh. Tapi kian lama menjadi kian biasa. Bahkan belakangan jarak itu terasa sedikit kurang jauh.

Betapa relatifnya jarak.

Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini menjadi pemandangan biasa pada jam 07.00 sudah banyak orang Jepang antre di ruang tamu. Demikian juga beberapa relasi PLN lainnya. Bahkan seorang wanita yang merasa diperlakukan kejam oleh suaminya juga tahu jadwal saya ini: sebelum jam 07.00 wanita itu sudah menangis di lobby untuk mengadukan kelakuan suaminya. Lalu minta sangu untuk pulang karena uangnya tinggal pas-pasan untuk datang ke PLN itu tanpa tahu harus bagaimana pulangnya. Suaminya, katanya, sangat-amat pelitnya.

Betapa relatifnya uang.

Selama enam bulan itu saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan sekali lagi di Komisi VII DPR-RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan cepat untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk dipecahkan. Tapi bukan berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih. Ribuan kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat sering menjadi tempat hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari para peserta rapat. Apalagi sering juga ide itu dikemukakan dengan jenakanya.

Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal PLN. Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang dihadapi perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya. Yang tidak ada pada mereka adalah muara. Ide begitu banyak mengalir tapi sedikit yang bisa mencapai muara. Kalau toh ada, muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan kandas. Kini, di ruang rapat itu, semua ide bisa mulai bermuara. Bahkan, meminjam lagunya almarhum Gesang, bisa mengalir sampai jauh….

Memang ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN itu siang malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus tegang di ruang rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku-ide, berbagi kue dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat PLN bukan lagi sebuah tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang menyenangkan. Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja tergantung yang mengisinya.

Betapa relatifnya tempat…

Sedih, senang, ketawa, menangis semuanya tergantung suasana kejiwaan. Pemilik jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa.

Betapa relatifnya jiwa.

Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di kursi direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan tahun, sejak sebelum di PLN. Setengah liar. Ini karena sebelum di PLN saya hampir tidak pernah membaca surat masuk. Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja. Semua surat masuk langsung didistribusikan ke staf yang bertugas di bidangnya. Sebab, kalau pun surat itu ditujukan kepada saya, belum tentu saya bisa menyelesaikannya. Maka untuk apa harus mampir ke meja saya kalau bisa langsung tertuju ke yang lebih pas menjawabnya.

Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk pertama kali dalam hidup saya, harus membuat corat-coret di lembar disposisi. Apa yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan? Harapan? Atau beberapa kata yang sifatnya hanya basa-basi –sekadar untuk menunjukkan bahwa saya atasan mereka?

Akhirnya saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang sangat jarang saja. Mengapa saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya saya yang tahu persoalan itu? Mengapa saya harus memberi instruksi seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat? Mengapa saya harus memberi petunjuk, seolah-olah saya itu pabrik petunjuk?

Maka jangan heran kalau mayoritas lembar disposisi itu tidak ada tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca surat itu. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa yang terbaik yang harus dilakukan. Bukankah karyawan PLN itu umumnya lulusan terbaik ranking 1 sampai 10 dari universitas-universitas terbaik negeri ini? Bukankah karyawan PLN ini doktornya saja sudah 20 orang dan masternya sudah 600 orang? Bukankah mereka sudah sangat berpengalaman –melebihi saya? Maka saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada mereka.

Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering diberi arahan, akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan. Orang yang terlalu sering diberi pidato kelak bisanya hanya akan minta petunjuk.

Saya harus sadar bahwa mayoritas warga PLN adalah lulusan terbaik dari universitas-universitas terbaik. Mereka sudah memiliki semuanya: kecuali kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal itu diberikan pada mereka. Saya sangat memercayai bahwa seseorang yang diberi kepercayaan akan muncul rasa tanggungjawabnya. Kalau toh ada yang tidak seperti itu hanyalah pengecualian.

Semua itu saya lakukan di meja rapat. Bukan di meja kerja direktur utama. Karena itu saya juga tidak pernah memanggil staf, misalnya, untuk menghadap duduk di kursi di depan direktur utama. Kalau saya lakukan itu, perasaan saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja sebenarnya. Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak itu. Mungkin karena dulu terlalu sering melihat Pak Harto di televisi dengan adegan seperti itu. Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di kantor ini.

Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun belum tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa duduk semestinya. Betapa relatifnya sebuah kekuasaan…..

Lalu apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini?

Ada yang bilang sudah sangat banyak: menanggulangi pemadaman bergilir di seluruh Indonesia, menyelesaikan IPP terkendala yang sudah begitu lama, mengatasi kacaunya tegangan listrik di berbagai wilayah (orang Aceh, Cianjur Selatan, Tangerang dan banyak lagi kini sudah bisa mengucapkan selamat tinggal tegangan 14! Sudah bertahun-tahun tegangan listrik di Aceh hanya 14 sehingga sering redup dan merusak barang-barang elektronik. Kini di Aceh dan banyak wilayah itu tegangan listriknya sudah normal, sudah bisa 20).

Tapi banyak juga yang bilang masih terlalu sedikit yang diperbuat. Bahkan ada yang bilang, termasuk seorang anggota DPR di Komisi VI, bahwa direksi PLN yang baru ternyata bisanya hanya menaikkan TDL. Tudingan ini tentu lucu karena bukankah yang bisa menaikkan TDL itu hanya pemerintah bersama DPR? Bukankah direksi PLN itu, sesuai dengan UU, sama sekali tidak punya wewenang menaikkan atau menurunkan TDL?

Betapa relatifnya kepuasan.

(Sebulan sekali, CEO PLN menulis surat kepada seluruh karyawan PLN. Inilah cara Dahlan Iskan untuk memotivasi dan berkomunikasi langsung dengan seluruh karyawannya. Surat itu diberi nama CEO’s Note. Tujuannya agar seluruh karyawan PLN yang lebih 40.000 orang itu bisa langsung membaca jalan pikiran dan keinginan pimpinan puncak perusahaan. Setiap kali CEO’s Note terbit, banyak tanggapan dari karyawan melalui forum email perusahaan. Artikel di atas adalah CEO’s Note edisi ke 6 bulan Juli 2010).

Sumber : kaltimpost

Comments
  1. yanuada says:

    Seperti cerita di pewayangan Mahabarata seorang pemimpin Panca Pendawa yaitu Yudistira memang selalu percaya terhadap bawahannya demikian juga bawahannya selalu mengemban tugas dengan baik.Tapi bagaimana di PLN ?
    Waktu enam bulan rasanya belum cukup untuk saling berhadaptasi antara pimpinan dan yang dipimpin .Memang agak sulit memimpin orang orang pinter,
    yang kepentingannya berbeda beda ,ada yang mementingkan jabatan dan pangkat, ada yang memntingkan materi dan banyak yang aneh aneh yang dihalalkan dengan berbagai cara.Memang sulit Pak Dahlan, dalamnya laut dapat diduga, tapi dalamnya hati siapa tahu ?. Contohnya kan bapak alami sendiri,hati orang lain yang bapak pakai masih belum cocok dengan hati bapak sendiri…kwek..kwek…meniru kata dokter bapak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s