Archive for March, 2011

Beberapa kali abang ditanyain ama junior2, temen2 abang yang baru lulus tentang tips dan trick nyari kerja. Padahal abang sendiri sampe sekarang masih belum dapet kerja. hiksss… Tapi nda pa2 deh abang coba untuk bantu bagi pengalaman. Kali ini bang ger2 bakal share segala A-Z seluk beluk dan tips mencari info pekerjaan dan melamar pekerjaan bagi para rekan2. Sejujurnya yang abang share ini merupakan pengalaman abang selama 5 bulan pontang panting mencari penghidupan. 😀

PERSIAPAN TEMPUR:

Sebelum terjun ke kawah candradimuka, jangan lupa mempersiapkan perbekalan dan amunisi. Ada beberapa amunisi dokumen yang perlu disiapkan untuk memenangi pertempuran. Untuk lebih jelasnya abang bakal jelasin satu persatu.

1. Curriculum Vitae (CV)

CV adalah lembaran berisi riwayat pendidikan dan pekerjaan serta catatan prestasi (menurut wikipedia). Tentunya ini udah tidak asing buat rekan2 sekalian, di luar sana ada banyak sekali bentuk CV, template, contoh CV yang bisa dijadikan sampel. Isikan data-data CV secara benar dan jujur. Yang harus diingat CV merupakan (more…)

Advertisements

Bagi beberapa orang, bekerja dapat memberikan perasaan puas. Pada titik yang lebih ekstrim, seseorang bahkan menganggap bahwa pekerjaan merupakan hal terpenting sehingga ia bekerja secara berlebihan.

Kondisi ini di masyarakat luas dikenal dengan istilah workaholic. “Seorang workaholic umumnya bekerja tanpa memikirkan kekuatan fisik sendiri dan bekerja secara berlebihan,” tutur Ulin Gading Manajer HRD ECC UGM.

Workaholic pada dasarnya bukanlah termasuk sebagai kelainan. Kondisi ini bisa diatasi dengan pengendalian diri untuk membagi antara kemampuan, tenaga, dan load pekerjaan yang tengah dihadapi. Sebaiknya Anda tidak memaksakan diri dan tetap menyediakan waktu untuk beristirahat.

Ada perbedaan mendasar antara menjadi workaholic atau kecanduan bekerja dengan hardworker atau pekerja keras. Workaholic misalnya bekerja untuk mencapai karir setinggi-tingginya sehingga mengorbankan kepentingan keluarga dan teman, adrenalin meningkat apabila menghadapi hal-hal yang tidak sesuai keinginannya, serta tidak dapat mengalihkan pikiran ke hal-hal lain kecuali yang berkaitan dengan pekerjaan.

Sedangkan hardworker atau pekerja keras akan menetapkan batas pada pekerjaan sehingga masih memiliki relasi dengan keluarga dan teman, serta melakukan aktivitas rekreasi. Seorang pekerja keras dapat mengendalikan dirinya untuk tetap tenang dan mampu mengalihkan pikirannya pada hal-hal yang menyenangkan selain pekerjaannya.

Seperti diberitakan oleh Vivanews dari Times of India, bekerja terlalu keras dan serius bisa memacu penyakit fisik maupun psikologis. Ancaman ini berlaku terutama jika sistem kerja tidak teratur, setiap hari lembur dan tidak menyediakan waktu untuk beristirahat. “Banyak orang menekan dirinya sendiri untuk hidup dengan tidak sehat demi mengejar kesuksesan. Tetapi, tekanan kerja tinggi dan jam kerja yang panjang, bisa membawa seseorang ke dalam masalah kesehatan serius bahkan bisa memperpendek umur,” kata George Griffing, M.D., profesor pengobatan internal dari Saint Louis University, Filipina. (CN)